RSS

Senin, 01 Juni 2009

Gus Maksum adalah seorang Kyai yang menjadi teladan bagi santri pondok pesantren Lirboyo Kediri. Beliau adalah seorang Kyai yang mumpuni dalam bidang pencak silat. Semasa hidupnya, beliau sangat mencintai olah raga pencak silat sehingga beliau di samping di kenal sebagai seorang Kyai tetapi beliau juga dikenal sebagai seorang yang sakti mandraguna, bahkan nama beliau hingga saat ini masih tetap harum di dalam dunia Persilatan.

Kehidupan beliau memang selalu identik dengan dunia persilatan, pastinya kita tidak asing lagi dengan nama “ PAGAR NUSA ” yaitu ikatan pencak silat Nahdlatul Ulama yang dididirikan pada tanggal 3 januari 1986 di pondok pesantren Lirboyo oleh para kyai-kyia NU dan sekaligus mengukuhkan Gus Ma’sum sebagai ketua.

Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, beliau adalah salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil beliau belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan .

Beliau berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai Terompah (bakiak). Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Beliau suka memelihara binatang yang tidak umum. Misalnya beliau memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya namun kali ini hewan peliharaan Gus Maksum yang tersisa saat ini tinggal Buaya dan burung Kasuari.

Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui PAGAR NUSA.

Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsa” (PAGAR NUSA) Gus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

Senin, 2009 April 06

Kharisma Gus Maksum masih dirasakan oleh banyak orang, terutama warga Kediri, Jawa Timur, terkhusus aggota perguruan Pagar Nusa. Meski almarhum sudah pergi menghadapIlahi lima tahun silam, namun tak membuat para santrinya merasa kehilangan panutan. Kini Kyai yang dikenal punya banyak ilmu kejadugan (kanoragan, Red) itu terasa hadir dalam banyak kerumunan santri yang selalu merindukan seorang panutan sebagai mana Gus Ma’sum.

SEJARAH RINGKAS CIMANDE

Semua komunitas Maenpo Cimande sepakat tentang siapa penemu Maenpo Cimande, semua mengarah kepada Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair, Kaer dsb. Abah dalam bahasa Indonesia berarti Eyang, atau dalam bahasa Inggris Great Grandfather). Tetapi yang sering diperdebatkan adalah dari mana Abah Khaer itu berasal dan darimana dia belajar Maenpo. Ada 3 versi utama yang sering diperdebatkan, yaitu:

1. Versi Pertama

Ini adalah versi yang berkembang di daerah Priangan Timur (terutama meliputi daerah Garut dan Tasikmalaya) dan juga Cianjur selatan. Berdasarkan versi yang ini, Abah Khaer belajar Silat dari istrinya. Abah Khaer diceritakan sebagai seorang pedagang (dari Bogor sekitar abad 17-abad 18) yang sering melakukan perjalanan antara Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dsb. Dan dalam perjalanan tersebut beliau sering dirampok, itu terjadi sampai istrinya menemukan sesuatu yang berharga.

Suatu waktu, ketika Abah Khaer pulang dari berdagang, beliau tidak menemukan istrinya ada di rumah... padahal saat itu sudah menjelang sore hari, dan ini bukan kebiasaan istrinya meninggalkan rumah sampai sore. Beliau menunggu dan menunggu... sampai merasa jengkel dan khawatir... jengkel karena perut lapar belum diisi dan khawatir karena sampai menjelang tengah malam istrinya belum datang juga.

Akhirnya tak lama kemudian istrinya datang juga, hilang rasa khawatir... yang ada tinggal jengkel dan marah. Abah Khaer bertanya kepada istrinya... "ti mana maneh?" (Dari mana kamu?) tetapi tidak menunggu istrinya menjawab, melainkan langsung mau menempeleng istrinya. Tetapi istrinya malah bisa menghindar dengan indahnya, dan membuat Abah Khaer kehilangan keseimbangan. Ini membuat Abah Khaer semakin marah dan mencoba terus memukul... tetapi semakin mencoba memukul dengan amarah, semakin mudah juga istrinya menghindar. Ini terjadi terus sampai Abah Khaer jatuh kecapean dan menyadari kekhilafannya... dan bertanya kembali ke istrinya dengan halus "ti mana anjeun teh Nyi? Tuluy ti iraha anjeun bisa Ulin?" (Dari mana kamu? Lalu dari mana kamu bisa "Main"?).

Akhirnya istrinya menjelaskan bahwa ketika tadi pagi ia pergi ke sungai untuk mencuci dan mengambil air, ia melihat Harimau berkelahi dengan 2 ekor monyet. (Salah satu monyet memegang ranting pohon.) Saking indahnya perkelahian itu sampai-sampai ia terkesima, dan memutuskan akan menonton sampai beres. Ia mencoba mengingat semua gerakan baik itu dari Harimau maupun dari Monyet, untungnya baik Harimau maupun Monyet banyak mengulang-ngulang gerakan yang sama, dan itu mempermudah ia mengingat semua gerakan. Pertarungan antara Harimau dan Monyet sendiri baru berakhir menjelang malam.

Setelah pertarungan itu selesai, ia masih terkesima dan dibuat takjub oleh apa yang ditunjukan Harimau dan Monyet tersebut. Akhirnya ia pun berlatih sendirian di pinggir sungai sampai betul-betul menguasai semuanya (Hapal), dan itu menjelang tengah malam.

Apa yang ia pakai ketika menghindar dari serangan Abah Khaer, adalah apa yang ia dapat dari melihat pertarungan antara Harimau dan Monyet itu. Saat itu juga, Abah Khaer meminta istrinya mengajarkan beliau. Ia berpikir, 2 kepala yang mengingat lebih baik daripada satu kepala. Ia takut apa yang istrinya ingat akan lupa. Beliau berhenti berdagang dalam suatu waktu, untuk melatih semua gerakan itu, dan baru berdagang kembali setelah merasa mahir. Diceritakan bahwa beliau bisa mengalahkan semua perampok yang mencegatnya, dan mulailah beliau membangun reputasinya di dunia persilatan. Jurus yang dilatih:

1. Jurus Harimau/Pamacan (Pamacan, tetapi mohon dibedakan pamacan yang "black magic" dengan jurus pamacan. Pamacan black magic biasanya kuku menjadi panjang, mengeluarkan suara-suara aneh, mata merah dll. Silakan guyur aja dengan air kalau ketemu yang kaya gini. ).

2. Jurus Monyet/Pamonyet (Sekarang sudah sangat jarang sekali yang mengajarkan jurus ini, dianggap punah. Kabarnya di Tasikmalaya di sana masih diajarkan, semoga Guru mereka diberi umur panjang, kesehatan dan murid yang berbakti sehingga jurus ini tidak benar-benar punah).

3. Jurus Pepedangan (ini diambil dari monyet satunya lagi yang memegang ranting).

Cerita di atas sebenarnya lebih cenderung mitos, tidak bisa dibuktikan kebenarannya, walaupun jurus-jurusnya ada. Maenpo Cimande sendiri dibawa ke daerah Priangan Timur dan Cianjur Selatan oleh pekerja-pekerja perkebunan teh. Hal yang menarik adalah beberapa perguruan tua di daerah itu kalau ditanya darimana belajar Maenpo Cimande selalu menjawab "ti indung" (dari ibu), karena memang mitos itu mempengaruhi budaya setempat, jadi jangan heran kalau di daerah itu perempuan pun betul-betul mempelajari Maenpo Cimande dan mengajarkannya kepada anak-anak atau cucu-cucunya, seperti halnya istrinya Abah Khaer mengajarkan kepada Abah Khaer.

Perkembangannya Maenpo Cimande sendiri sekarang di daerah tersebut sudah diajarkan bersama dengan aliran lain (Cikalong, Madi, Kari, Sahbandar, dll). Beberapa tokoh yang sangat disegani adalah K.H. Yusuf Todziri (sekitar akhir 1800 - awal 1900), Kiai Papak (perang kemerdekaan, komandannya Mamih Enny), Kiai Aji (pendiri Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka, perang kemerdekaan), Kiai Marzuk (Maenpo H. Marzuk, jaman penjajahan Belanda), dll.

0 komentar:

Poskan Komentar

Gus Dur, Bung Tomo, Kartosuwiryo


Keterangan gambar : Jenderal Mayor TNI Abdul Kadir

OlehHimawan Soetanto

Saya agak terlambat membaca suratkabar harian Seputar Indonesia (Sindo) edisi 18 Juni 2007 yang memuat kolom Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berjudul “Pelestarian Kenyataan Sejarah”. Saya mencari Sindo edisi itu setelah beberapa orang teman memberitahukan dan menanyakan apa komentar saya atas kolom yang isinya terdapat kenyataan sejarah yang keliru. Di sini saya tidak mengomentari pesan yang ingin disampaikan oleh “Guru Bangsa” dan mantan Presiden RI melalui kolomnya itu tentang perlakuan adil yang harus diberikan bagi semua warga negara dan kepada daerah daerah provinsi. Saya menjunjung harapan beliau untuk membangun sikap saling mempercayai satu sama lain dan mewariskannya bagi anak cucu kita. Saya mendukung pernyataan beliau bahwa “kearifan sejarah” adalah bagian dari pertumbuhan sebuah bangsa, dan kita perlu bicara dengan santai dan terbuka atas jalannya sejarah. Yang ingin saya komentari di sini adalah apa yang beliau percayai sebagai kenyataan sejarah bahwa Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dibentuk oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman dan Presiden Sukarno pada 1947. Gus Dur mengatakan bahwa pembentukan itu digerakkan oleh gairah untuk mempertahankan RI. “Kearifan sejarah” Gus Dur tentang DI/TII ini pernah pula ditulisnya di sebuah koran lain beberapa waktu yang lalu, dan sanggahan terhadapnya juga telah ditulis oleh seorang sejarawan. Bagi saya pribadi, isu ini juga bukan hal baru, karena ketika menjadi Panglima Siliwangi, saya harus meluruskan pernyataan Bung Tomo (tokoh perjuangan RI yang pernah menjadi salah satu anggota pucuk pimpinan TNI) yang meyakini bahwa “proklamasi negara Islam Indonesia Kartosuwiryo” itu bukan bersumber pada suatu ideologi, tetapi hanya karena adanya salah paham dan sengketa senjata antara sesama bangsa. Negara Islam itu, menurut Bung Tomo, hanya merupakan alat berkelahi semata-mata.Dalam Himbauan yang diterbitkan oleh Bung Tomo pada 7 September 1977, yang ditujukan ke Jenderal Panggabean dan Laksamana Sudomo, dan juga dipublikasikan di media massa itu, disebutkan bahwa kedatangan kembali pasukan Siliwangi ke Jawa Barat setelah Clash II merupakan intervensi terhadap mission SM Kartosuwiryo dalam menghadapi Belanda. Mission tersebut, menurut Bung Tomo, diterima SMK langsung dari Jenderal Sudirman untuk melindungi kaum republikein. Bung Tomo mengatakan konflik Siliwangi dan DI/TII itu disebabkan oleh salah paham dan kurangnya komunikasi intensif.Cita-cita NII Sejak SemulaTerhadap kolom Gus Dur di Sindo 18 Juni itu pertama yang harus dikoreksi adalah bahwa Persetujuan Renville (ditandatangani 17 Januari 1948) bukan dilakukan oleh Sutan Syahrir, melainkan oleh Perdana Menteri Amir Syarifuddin. Juga tentang Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (selanjutnya disingkat SMK) sebagai asisten militer dari Pangsar Sudirman saya ragukan. Ayah saya adalah Mayjen TNI R Muhammad Mangoendiprodjo yang menjabat anggota kabinet Pangsar (1946–1948). Daripadanya saya tidak pernah dengar bahwa tokoh itu duduk di markas besar AP. SMK ketika itu dikenal sebagai anggota parlemen (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan merangkap komisaris Masyumi Jawa Barat. Ia memang penentang keras perundingan Linggajati (25 Maret 1947) dan Renville. Selebihnya, tanggapan saya ini kira-kira akan sama seperti yang saya tujukan kepada Bung Tomo tertanggal 9 November 1977 tersebut. Kalau benar pembentukan DI/TII itu untuk mempertahankan RI seperti kata Gus Dur (atau melindungi kaum republikein seperti kata Bung Tomo), maka jelas SMK membangkang mission yang diembannya itu. Karena dalam kurun waktu antara Renville, Januari 1948 dan kegagalannya, Desember 1948 (Agresi Belanda ke-II), sampai pada KMB dan seterusnya, SMK konsisten dengan cita-cita negara Islamnya. Harap diingat, ketika 7 Agustus 1949 Negara Islam Indonesia (NII) diproklamasikan, sebenarnya pemerintah RI Yogya telah dipulihkan dan Soekarno-Hatta sudah kembali sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Serangkaian konferensi, mulai di Cisayong (10 Februari 1948), Cipeundeuy (2 Maret 1948), Cijoho (1 Mei 1948), SMK yang dijadikan imam umat Islam Indonesia, sudah mengusahakan pembentukan NII, memerintah pengumpulan senjata, membatalkan semua perundingan dengan Belanda, membentuk TII yang berintikan laskar Hizbullah dan Sabilillah. Pada 27 Agustus 1948 diresmikan Kanun Azasi (UUD) yang didalamnya dinyatakan bahwa NII berbentuk “Jumhuriah”. Sehari setelah Belanda melancarkan agresinya yang kedua dan langsung menduduki Yogyakarta (19 Desember 1948), SMK mengumumkan “jihad fisabilillah” terhadap Belanda. Tapi bersamaan dengan itu juga menyatakan pasukan TNI/Siliwangi sebagai pasukan liar yang harus ditumpas.Berlanjut sampai Belasan TahunKonflik antara TNI dan DI/TII bukanlah soal salah paham atau kurang intensifnya komunikasi. Ketika Divisi Siliwangi kembali ke Jawa Barat, mereka menemui daerah Priangan sudah menjadi guerrilla invested area DI/TII. Sementara itu, Siliwangi harus membangun wilayah perlawanan (wehrkreise) TNI di tempat yang sama.
Sebagai sesama pejuang, Siliwangi berusaha menjalin kerja sama dengan DI/TII, perselisihan antarkeduanya ditunda sampai urusan dengan Belanda selesai. Kontak-kontak dilakukan oleh utusan divisi. Ada pula oleh utusan brigade atau batalyon.

Namun mendapat jawaban bahwa TNI di Jawa Barat harus di bawah komando TII. Mayor TNI Utarya, yang diutus divisi, dibunuh karena menolak mengakui kedaulatan DI/TII. Utusan lainnya, Lettu Aang Kunaefi, mendengar langsung jawaban SMK bahwa ia “tidak mengenal RI dan TNI, yang dikenal hanya Darul Islam dan tentara Belanda”.Setelah pengakuan kedaulatan dan permasalahan Indonesia dengan Belanda selesai, TNI memerangi DI/TII yang telah dinyatakan sebagai pemberontak operasi keamanan di Jawa Barat. Peperangan ini baru bisa diselesaikan setelah SKM menyerah pada 4 Juni 1962. Selama 13 tahun pemerintah RI dan TNI harus berhadapan dengan DI/TII yang ingin mendirikan NII sebagai pengganti NKRI. Kita ingin tidak terjadi lagi intra-state conflict di Indonesia. Kalau ada perbenturan ideologi atau kepentingan di antara kita, apakah itu antara pusat dan daerah, antargolongan, atau karena ketidakadilan pembagian sumber daya, jangan lagi sampai diselesaikan dengan kekerasan senjata. Siliwangi sejak semula tidak ingin perbenturan kepentingan di antara anak negeri diselesaikan dengan kekerasan. Pendekatan baik-baik dilakukan terhadap DI/TII, termasuk ketika melancarkan operasi militernya, yang mengasihi rakyat, tidak menyakiti musuh yang tertawan, dan menghormati keluarga pihak lawan.
Tapi bagaimana pun kita harus arif dan menyadari, bagaimana mungkin DI/TII dibentuk oleh Panglima Besar Sudirman dan Presiden Sukarno pada 1947 untuk mempertahankan RI dan melindungi kaum republikein. Faktanya, 1947 persetujuan Renville belum terjadi, berarti ketika itu Divisi Siliwangi masih di Jawa Barat. Faktanya, SMK sudah sejak semula ingin mendirikan NII, menggantikan NKRI. Penulis adalah purnawirawan Pati TNI, pernah memimpin kesatuan TNI memerangi DI/TII di Jawa Barat. Kini sedang menyelesaikan program pasca sarjana (S-3) sejarah di UI.

dosa

Terlepas dari adanya perbedaan tentang konsep dosa, ajaran Islam dan Kristen punya kesamaan bahwa dalam menjalani kehidupan ini, manusia tidak terlepas dari dosa. Kristen mengajarkan gara-gara kesalahan yang dilakukan nenek-moyang manusia Adam dan Hawa, maka seluruh umat manusia ‘terjebak’ dalam ‘kuasa dosa’ sehingga dosa adalah sesuatu yang melekat dalam diri manusia. Kristen juga mengajarkan, satu-satunya cara agar manusia terlepas dari dosa adalah melalui penebusan yang dilakukan Yesus Kristus yang rela mati ditiang salib. Bagi yang percaya (sebagian bilang beriman) maka dosanya sudah ditebus, sehingga mendapat keselamatan dan berkumpul dengan Tuhan di surga nanti.

Kurang-lebih sama dalam ajaran Islam, yang dinamakan ‘kuasa dosa’ tersebut diistilahkan ‘potensi berbuat dosa’. Allah menciptakan manusia dalam kondisi yang netral, tidak berdosa dan tidak juga berpahala, karena dosa dan pahala muncul dari ‘perbuatan yang disadari’. Seorang bayi belum dihitung telah berbuat dosa maupun berbuat kebaikan yang menghasilkan pahala, demikian juga seorang yang tidak waras (gila) perbuatan apapun yang dilakukannya tidak bisa dikatakan baik atau buruk karena ketidak-warasannya.

[4:28] Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

[7:179] Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

[10:92] Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

[11:118] Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,


Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menceritakan tentang kelemahan manusia sehingga terjerumus dalam berbuat dosa. Lalu bagaimana caranya agar dosa-dosa manusia bisa dihapus..?? sehingga ketika saat tiba kelak, manusia bersih dari dosa dan bisa bertemu dengan Tuhan di surga..?? Umat Islam tidak ‘seberuntung’ rekannya yang Kristen, yang sudah punya ‘oknum pencuci dosa’, maka proses penghapusan dosa dalam ajaran Islam tergantung dari ‘mekanisme’ yang telah diciptakan Tuhan.

Segala perbuatan manusia, baik atau jahat/dosa, umumnya dibagi atas 2 hal sekalipun secara mutlak diantara keduanya tidak bisa dipisahkan, yaitu perbuatan terhadap Allah dan perbuatan terhadap sesama makhluk. Perbuatan baik terhadap Allah berupa ritual penyembahan yang sudah ditentukan Allah dan bukan dikarang-karang sendiri. Umat Islam menyembah Allah dengan cara yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW seperti shalat, puasa, haji, dll. Dalam hal ini berlaku kaedah 'semua ritual penyembahan adalah haram dilakukan kecuali apa yang diperintahkan', jadi umat Islam sangat ketat dalam 'karang-mengarang' tata-cara ibadah dan tidak boleh mengada-ada. Selain itu ada juga perbuatan baik kepada sesama makhluk, itu juga banyak dicontohkan oleh Rasulullah dan dalam hal ini berlaku kaedah 'semua perbuatan terhadap sesama makhluk adalah baik kecuali apa yang dilarang', namun disini berlaku prinsip 'berhati-hati' dan lebih baik meninggalkan perbuatan yang kira ragu terhadapnya. Sebaliknya tidak melakukan apa yang diperintahkan (sehubungan dengan Allah) dan mengerjakan apa yang dilarang (sehubungan dengan sesama makhluk) dinamakan dengan dosa/maksiat/jahat/salah. Dalam menjalani kehidupan manusia selalu akan menjalani ini. Kadang kesadaran muncul, maka hasilnya adalah ketaatan, besok kembali lupa lalu mengakibatkan kesalahan dan dosa. Itu selalu terjadi pada siapapun.

Ada yang perlu kita perhatikan disini, bahwa dosa terhadap sesama manusia kemungkinan besar anda lakukan terhadap ORANG-ORANG DISEKITAR ANDA DAN ORANG-ORANG YANG TERDEKAT DENGAN ANDA. seperti orang-tua, istri/suami, anak, saudara, tetangga. Kecil kemungkinan anda pernah berbuat dosa kepada Mr. Black di Amerika yang tidak anda kenal, atau Yamamoto-san di Tokyo yang tidak pernah berhubungan dengan anda. maka berhati-hatilah, diakherat nanti kemungkinan besar justru orang-orang terdekat anda inilah yang bisa menyeret anda keneraka karena perbuatan zalim anda terhadap mereka. Anda akan dipertemukan dengan mereka dan semua akan bersaksi terhadap segala perbuatan anda. Apakah anda akan mengira orang-tua, anak, istri anda akan membantu anda disana nanti..?? :

[23:101] Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.


Di akherat semua manusia mempertanggung-jawabkan dirinya sendiri..

Mekanisme penghapusan dosa dalam ajaran Islam bisa dirumuskan kepada hal berikut :

1. Meminta ampun dan melakukan taubat nasuha (taubat dengan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut), namun sebagai manusia kadang kita kembali lupa lalu melakukan dosa lagi, maka kita diharuskan kembali meminta ampun. Kondisi seperti ini sudah dinyatakan Allah dalam Al-Qur'an :

[3:135] Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

[7:153] Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[4:110] Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Lihatlah ayat tersebut, tidak dijelaskan BERAPA KALI DOSA YANG KITA LAKUKAN agar taubat kita diampuni Allah. Artinya bisa saja kita melakukan dosa berkali-kali, dan ketika kita minta ampun, Allah akan mengampuni kita berkali-kali juga. Namun disini ada peringatan, jangan sampai anda punya pikiran :”Nahh..gampang khan..?? tiap berbuat dosa kita langsung minta ampun, toh..Allah bakalan mengampuni kita…”. Karena ada ayat ini :

[6:70] Dan tinggalkan lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quraan itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu.


Disamping juga tidak ada seorang manusiapun yang tahu pasti kapan nyawanya akan dicabut, maka kelakuan ‘menganggap enteng’ perbuatan dosa tersebut bisa mencelakakan diri sendiri.

2. Selain meminta ampun kepada Allah, kita juga diwajibkan meminta maaf kepada orang lain atas kesalahan kita terhadap mereka. Al-Qur'an mengajarkan bahwa memberi maaf atas kesalahan orang lain adalah suatu keutamaan :

[4:149] Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Kuasa.

[5:13].. dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

[15:85] Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.

[42:37] Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.


Coba anda perhatikan bunyi ayat diatas, fokus ajaran soal 'maaf-memaaf' ini ternyata ada pada pihak yang MEMBERI maaf, bukan pada yang MEMINTA maaf, karena memang memberi maaf jauh lebih berat daripada meminta maaf sehingga petunjuk Allah ditujukan bagi pihak yang memberi maaf. Dalam hubungan antar manusia, tidak ada seorangpun yang tidak punya salah dan dosa kepada orang lain, maka perintah memaafkan sesuai ayat diatas berarti juga ‘dimaafkan’ oleh orang lain.

3. Dalam kondisi kita sudah meminta ampun kepada Allah, sudah berusaha untuk meminta maaf kepada sesama manusia, maka selanjutnya tindakan kita adalah memperbanyak amal saleh kita dan menjauhi perbuatan dosa, gunanya ketika sampai waktunya hari penghakiman, saat amal baik dan dosa kita ditimbang, kita ada dalam kondisi 'surplus' amal baik. Perbuatan baik tersebut seyogyanya terkait dengan kesalahan apa yang kita lakukan, seorang koruptor misalnya, selain meminta maaf kepada orang-orang yang dirugikannya, juga harus diikuti perbuatan baiknya untuk menyerahkan harta yang telah dikorupsinya dan jangan sampai punya pikiran :”Yang penting khan sudah minta maaf, harta yang terlanjur sudah saya ‘kumpulkan’ menjadi milik saya donk…”, berhati-hatilah karena bisa-bisa taubat dan permintaan maaf anda tidak ada artinya. Perbuatan baik akan menghapus dosa anda :

[11:114] Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.


Yang harus diingat adalah perbuatan baik dan dosa jangan dilihat dari sisi kuantitasnya saja, kita mungkin punya pikiran :"Hari ini saya sudah berbuat baik 10 kali, dosa yang saya lakukan cuma 3 kali, Alhamdulilaaahh..masih 'surplus' dan masih aman bisa masuk surga..". Perbuatan baik dan dosa juga harus dilihat dari sisi kualitasnya, bisa saja 1 dosa menghapus perbuatan baik anda yang telah dilakukan bertahun-tahun. Mungkin anda punya pikiran, hanya dosa kecil ketika anda memaki orang lain, atau iseng membuang sebuah paku dijalanan, padahal makian anda bisa merusak hati orang seumur hidupnya, atau sebiji paku yang anda tempatkan dijalan bisa membunuh puluhan orang apabila dilindas sebuah bis yang sarat penumpang. Sebaliknya perbuatan baik yang anda anggap sepele justru bisa mengapus dosa anda yang dilakukan bertahun-tahun, dalam hadist Rasulullah diriwayatkan bagaimana seseorang yang memberi minum seekor anjing yang kehausan diganjar Allah dengan surga dan dihapus dosa-dosanya.

Maka setiap Muslim yang ingin menjalankan ajaran Islam dengan baik seharusnya berhati-hati setiap saat, tidak menganggap sepele setiap perbuatan..

4. Pertanyaan muncul : bagaimana kalau ketiga hal tersebut sudah dilakukan, namun ternyata kita masih 'tekor' di akherat..?? segala perbuatan baik kita tidak juga mampu mengapus dosa-dosa yang kita lakukan. Perlu diketahui bahwa segala perbuatan kita punya ‘harga yang pantas’ diakherat nanti, tidak ada dari perbuatan kita yang luput dari penilaian Allah :

[4:40] Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

[99:7] Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. [99:8] Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.


Ketika pahala anda ternyata tidak cukup ‘mengkompensasikan’ dosa yang anda perbuat maka keadilan Tuhan akan menjebloskan anda ke neraka, tujuannya adalah untuk 'mencuci dosa', anda akan disiksa sesuai dosa-dosa yang anda lakukan. Bagi orang yang beriman (Kristen menyebutnya : percaya tapi tidak beriman) yang amal salehnya tidak sanggup menghapus dosanya, setelah mendapat hukuman yang setimpal baru kemudian dikeluarkan dari neraka untuk dimasukkan ke surga.

Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sungguh, aku benar-benar tahu penghuni neraka yang keluar terakhir dari sana dan penghuni surga yang terakhir masuk ke dalamnya, yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. Lalu Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia pun mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga telah penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga itu penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga, karena sesungguhnya menjadi milikmu semisal dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau, sesungguhnya bagimu sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata: Apakah Engkau mengejekku (atau menertawakanku), sedangkan Engkau adalah Raja? Abdullah bin Masud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulullah saw. tertawa sampai kelihatan gigi geraham beliau. Dikatakan: Itu adalah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya.

(dari Shahih Bukhari jilid IV)
1761. Dari Anas bin Malik r.a dari Nabi saw, beliau bersabda: "Keluar satu kaum dari neraka, sedang kulit mereka telah hitam karenanya. Mereka masuk ke dalam surga, sedang isi surga menamakan mereka "orang2 dari jahannam".
1762. Dari Abu Sa'id Al Khudri r.a bahwa Rasulullah saw bersabda:"Setelah isi surga masuk ke dalam surga dan isi neraka masuk ke dalam neraka, Tuhan berfirman:"Siapa yang ada keimanan dalam hatinya barang seberat biji sawi, hendaklah kamu keluarkan dari neraka." Lalu mereka dikeluarkan, sedang kulit merekan telah terbakar menjadi bara. Kemudian mereka dijatuhkan ke dalam sungai kehidupan, maka bertumbuhlah mereka sebagai tumbuhnya bibit di atas sampah banjir. Nabi saw berkata:"Bukankah sudah kami lihat, tumbuhnya kuning dan bengkok?"


Para ulama umumnya menggolongkan kondisi manusia di akherat kedalam 3 kelompok :

1. Orang-orang saleh yang seumur hidupnya selalu istiqamah (konsisiten) dalam menjalankan perbuatan baik berdasarkan keimanan kepada Allah, mereka akan diganjar surga. Dosa yang mereka lakukan tidak ada artinya dibandingkan keimanan dan amal saleh yang telah mereka perbuat.

2. Orang-orang kafir, musyrik yang menyangkal Allah dan mempersekutukan Allah dengan makhluk lain, disini juga termasuk Iblis yang sekalipun beriman (anda bilang percaya tapi tidak beriman) tapi justru memilih untuk berbuat hal yang melawan perintah Allah dan sengaja menyesatkan orang lain agar ikut melawan Allah, akan diganjar neraka selama-lamanya. Orang kafir sekalipun banyak berbuat baik selama hidup di dunia, diibaratkan : pegawai Telkom mau minta gaji ke PLN, atau pembantu di rumah tetangga mau minta upah kepada anda, sekalipun mereka bekerja dengan baik namun tentunya upah/gaji harus diberikan oleh majikan masing-masing. Celakanya di akherat nanti hanya Allah-lah satu-satunya majikan, yang selama ini dianggap majikan ternyata hanyalah makhluk Allah yang lemah juga dan tidak mampu memberi gaji.

3. Yang terbanyak adalah golongan 'semua ada' seperti saya ini, perbuatan baik ada, ibadah banyak, dosa juga banyak, maka keselamatan di akherat tergantung timbangan.

Khusus pada waktu penghakiman nati diakherat, Rasulullah menyampaikan hadist tentang adanya manusia yang ‘bangkrut’ di akherat kelak :

"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bertanya : Tahukah kamu semua siapakah orang yang muflis itu ? Maka mereka ( para sahabat ) menjawab : orang yang muflis di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam menerangkan : orang yang muflis dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) solat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela akan si polan, menuduh (berzina) akan si polan, memakan harta si polan, menumpahkan darah si polan dan telah memukul orang lain ( dengan tiada hak ), maka diberikan pada si polan tersebut kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si polan yang lain diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan si polan yang dizalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. HR. Muslim.


Anda bisa lihat bahwa ketika seseorang masuk surga, tidak ada lagi dosa yang melekat pada dirinya, semuanya sudah dihapus dengan berbagai cara, dan hanya itulah jalan agar bisa bertemu dengan Allah. Lalu apakah akibatnya ‘mekanisme’ penebusan dosa tersebut bagi manusia..??

Konsep tersebut menghasilkan pengaruh positif dalam kehidupan di dunia :

1. Setiap Muslim menjadi berhati-hati dalam berbuat, selalu memperbanyak ibadah penyembahan kepada Allah, memperbanyak perbuatan baik dan menjaga diri dari dosa sekecil apapun karena akan berpengaruh terhadap keselamatan.
2. Setiap waktu meminta ampun kepada Allah (dalam Al-Qur'an ada panduan cara-cara meminta ampun dan kata-kata yang harus diucapkan) karena kodrat manusia, selalu tergelincir dalam kesalahan. Sekarang bertaubat dan beriman (sesuai istilah anda artinya percaya dan diikuti perbuatan baik) besok lupa lagi dan tergelincir lagi, dan kita tidak tahu kapan kita mati, sehingga mendorong Muslim setiap waktu meminta ampun kepada Allah.
3. Berhati-hati dalam berbuat terutama terhadap orang-orang yang ada disekeliling, orang-tua, istri/suami, anak, saudara, tetangga dan lingkungan karena kezaliman kita terhadap mereka akan sangat berpengaruh terhadap keselamatan kita.
4. Mempunyai sikap yang tegas terhadap kecenderungan penyakit masyarakat yang mengarah kepada kehancuran, prostitusi, homoseksual. dll dan bersikap tegas terhadap orang-orang yang MEMULAI menyerang ajaran Islam.
5. Berhati-hati dalam mengelola lingkungan karena berbuat kerusakan terhadap lingkungan merupakan dosa yang besar akibat menyengsarakan banyak orang, berhati-hati menjadi pemimpin, karena pemimpin yang zalim juga akan menyengsarakan banyak orang (anda bisa bayangkan ratusan juta orang yang disengsarakan nantinya akan balik menuntut, amal saleh yang anda kumpulkan di dunia bakal tidak ada artinya)

Semuanya karena penebusan dosa dalam ajaran Islam dilihat dari ‘proses’ bukan dari ‘hasil’. Tidak bisa dosa anda dicuci hanya karena anda mulai beriman atau percaya, lalu digembar-gemborkan ‘terlahir baru’. Ketika anda menclaim diri anda sudah beriman atau terlahir baru maka bukan otomatis anda terlepas dari ‘kuasa/potensi dosa’, karena potensi tersebut masih melekat selama anda masih menjalani kehidupan dan besok lusa ketika keimanan anda ‘turun’, anda bisa kembali berbuat dosa. Proses penebusan dosa dalam ajaran Islam terjadi setiap waktu, setiap hari, setiap detik kehidupan anda tergantung dari kesadaran anda yang dekat dengan Tuhan.

pembagian dosa & maksiat

الْمَعَاصِى (pembagian dosa dan maksiat)
Oleh : Ihsan Faisal BR, M.Ag

1. اَالذُنُوْبُ تَرْكُ مَأْمُوْرٍ وَفِعْلُ مَحْظُوْرٍ (meninggalkan perintah dan melakukan yang dilarang)
Banyak orang yang beranggapan bahwa dosa itu hanyalah melakukan hal-hal yang dilarang (diharamkan), mereka lupa bahwa maksiat yang pertama kali terjadi bukanlah karena melakukan hal yang diharamkan tetapi meninggalkan sesuatu yang mesti dikerjakan, seperti maksiatnya iblis ketika Allah SWT memerintahkan supaya sujud kepada Nabi Adam As tetapi iblis menolak.
             
"Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah : 34)

Maksiat yang kedua adalah melakukan hal yang dilarang (diharamkan), yaitu dosanya Nabi Adam As.
     •                                                
"Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah : 35-37)

Wajib bagi setiap muslim yang menginginkan dirinya selamat dari dosa untuk mengetahui semua perintah Allah SWT dan larangannya dengan bersungguh-sungguh mendalami Al-Qur'an dan Al-Sunnah.

2. اَلذُنُوْبُ الْجَوَارِحِ وَالذُنُوْبُ الْقُلُوْبِ (dosa-dosa anggota badan dan dosa-dosa hati)
Yang dimaksud dengan dosa anggota badan adalah dosa-dosa yang dilakukan oleh mata, telinga, lidah, tangam, kaki, faraj (kehormatan), perut, dan yang lainnya.
Yang dimaksud dengan dosa hati adalah dosa yang dilakukan oleh hati, seperti sombong, ujub, riya, hasud, benci, dan lain-lain. Al-Ghazali menamakannya dengan Al-Muhlikaat (hal-hal yang membinasakan).
Dosa-dosa hati lebih berbahaya dari pada dosanya anggota badan karena :
1. Hati adalah hakikat manusia, Rasul Saw bersabda : "Ketahuilah dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila rusak maka rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (muttafaq 'alaih)
Rasul Saw : "Sesungguhnya Allah SWT tidak akan melihat jasad dan rupa kamu, tetapi ia akan melihat kepada hati dan amal kamu." (HR. Muslim)
Al-Qur'an menjelaskan bahwa yang dapat menyelamatkan manusia di akhirat adalah orang yang memiliki qalbun saliim (hati yang selamat). Lihat QS.Al-Syu'araa : 87-89.
                  
"Dan janganlah Engkau hinakan Aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih"

Ibnu Qayyim menjelaskan maksud qalbun salim : "yaitu yang selamat dari lima hal: selamat dari syirik yang merusak tauhid, selamat dari bid'ah yang menafikan sunnah, selamat dari syahwat yang menafikan perintah, selamat dari ghaflah (lalai) yang menafikan dzikir, selamat dari hawa nafsu yang menafian keikhlasan."
2. Dosa-dosa hati adalah yang mendorong kepada maksiat-maksiat yang dhahir. Semua maksiat yang dhahir pendorongnya adalah mengikuti hawa nafsu, cinta dunia, hasad, sombong, hubbud dunya, dan sebagainya.
3. Ancaman yang berat bagi maksiat hati sebagaimana sabda Rasul Saw: "tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan (meskipun hanya) seberat biji sawi." (HR. Muslim)

3. اَلذُنُوْبُ الْمَعَاصِى وَ الْبِدَعِ (dosa-dosa berupa maksiat dan bid'ah)
Maksiat adalah pembangkangan terhadap aturan Allah SWT
Ibadah dalam Islam berdiri dalam dua asas yang sangat penting yaitu :
a. Tidak boleh beribadah kecuali kepada Allah SWT
b. Tidak boleh Ibadah kepada Allah SWT kecuali dengan yang telah Dia syari'atkan.

4. اَلذُّنُوْبُ الْقَاصِرَةِ وَالذُّنُوْبُ الْمَنْعَدِيَةِ (dosa-dosa terbatas dan menular)
Manfaat dari amal shalih ada yang terbatas bagi orang yang mengerjakannya saja seperti shalat, shaum, haji. Ada juga yang manfaatnya 'menular' bagi yang lain seperti zakat, shadaqah, dan yang lainnya.
Demikian juga maksiat ada yang dosanya terbatas bagi pelakunya sendiri ada juga yang 'menular' bagi yang lain.
a. Dosa yang menembus ruang/tempat ( الممتدّة فى المكان )
Dosanya para pelaku penyebar kebohongan, para pemimpin, penguasa, pemerintah yang dlalim, pelaku maksiat, dan sebagainya.
b. Dosa yang menembus batas waktu ( الممتدّة فى الزمان )
Sebagian ulama salaf berkata: "Alangkah bahagianya orang yang mati dan dosa-dosanya ikut mati bersamanya. Alangkah celaka bagi orang yang mati tetapi dosa-dosanya terus menerus dikerjakan setelah kematian."
Orang yang memulai pekerjaan yang jelek dan diikuti oleh yang lain, ia akan mendapatkan dosanya dan dosa-dosa orang yang mengikutinya (setelah kematiannya) sampai hari kiamat.
Rasul Saw bersabda: "Barang siapa yang membuat sunnah (memulai suatu pekerjaan) yang jelek ia akan mendapatkan dosa dan dosa-dosa dari orang yang megikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka sampai hari kiamat." (HR.Muslim)
Rasul Saw. bersabda: "Tidak ada satu jiwa pun yang dibunuh kecuali anak Adam yang pertama mendapatkan bagian dosa, karena dialah yang memulai pembunuhan." (HR.Bukhari)

5. اَلذُّنُوْبُ الْمُتَعَلِّقَةُ بِحُقُوْقِ اللَّهِ وَالْمُتَعَلِّقَةُ بِحُقُوْقِ الْعِبَادِ (Dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah SWT dan dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia)
Maksud dari point ini adalah melanggar segala perintah Allah yang berupa kewajiban manusia dan hak-hak antar sesama manusia baik berupa materi, lingkungan, sumber daya alam, kehormatan diri, dan lain-lain.
6. صَغَائِرُ الذُّنُوْبِ وَكَبَائِرُهَا ( dosa kecil dan dosa besar)
Sebagian ulama mendefinisikan dosa besar : "setiap dosa yang memiliki hukuman tertentu di dunia, seperti zina, mabuk, mencuri, menuduh zina, atau terdapat ancaman dengan hukuman akhirat seperti memakan harta anak yatim, membunuh."

Beberapa kaidah yang berkaitan dengan dosa besar dan dosa kecil :
a. اَلصَّغِيْرُتَجُرُّ اِلَى الْكَبِيْرَةِ (dosa kecil bisa membawa kepada dosa besar)
b. اِجْتِنَابُ الْكَبَائِرِ يُكْفَرُ الصَّغَائِرِ (menjauhi dosa besar akan menghapus dosa kecil)
c. اَلصَّغِيْرَةُ قَدْ تَكَبَّرُ بِأَسْبَابٍ وَمُلاَبَسَاتٍ (dosa kecil akan menjadi besar dengan beberapa sebab dan situasi serta kondisi)

Ada beberapa sebab yang menjadikan dosa kecil menjadi dosa besar yaitu :
a. اَلْإِصْرَارُ وَالْمُوَاظَبَةِ (terus menerus dan membiasakan)
Ada ungkapan yang sangat terkenal dari para ulama: "tidak ada dosa kecil kalau terus menerus dilakukan, dan tidak ada dosa besar kalau ia istighfar."

b. اِسْتِصْغَارُ الْمَعْصِيَّةِ (menganggap remeh maksiat)
Rasul Saw bersabda: "Orang mukmin melihat dosanya bagaikan gunung yang ada di atasnya,ia sangat takut gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang munafiq ia memandang dosanya bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya yang mudah untuk diusirnya." (HR. Bukhari)

c. اَلتَّهَا
d. وُنُ بِسَتْرِ اللَّهِ عَلَيْهِ (terperdaya dengan perlindungan Allah SWT kepadanya)
Saat ia melakukan dosa dan orang lain tidak mengetahuinya ia merasa bahwa ia mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

d. إِظْهَارُ الْمَعْصِيَّةِ وَالتَّبَجُّحِ بِهَا (menampakkan maksiat dan berbangga hati dengannya)
Setelah ia berbuat maksiat ia menceritakan kepada orang lain dengan penuh kebanggaan, sehingga mendorong orang lain untuk melakukan perbuatan yang sama.

e. مَعْصِيَّةُ الْعَالِمِ وَالْقُدْوَةِ (maksiatnya orang yang berilmu dan orang yang menjadi panutan)